bondowosokab.go.id, BONDOWOSO - Bekerja sama dengan Pemerintah Kabupaten Bondowoso dan mitra global, UNESA melanjutkan rangkaian agenda tahunan International Community Development (ICD) 2026 melalui kegiatan pelatihan di kawasan Black Lava, Kecamatan Ijen, Jumat (6/2/2026).
Program ini dirancang untuk mendorong petani lokal agar "naik kelas", bertransformasi dari sekadar penyedia bahan mentah menjadi pelaku industri pengolahan yang memiliki daya saing tinggi.
Dalam pelatihan yang berlangsung interaktif ini, tim UNESA memberikan pendampingan teknis mengenai pengolahan kotoran hewan menjadi pupuk kandang berkualitas guna menciptakan ekosistem pertanian yang berkelanjutan. Lebih jauh, masyarakat juga diajak melakukan hilirisasi pada sejumlah komoditas unggulan seperti alpukat, pisang, dan tomat. Peserta dilatih untuk tidak lagi menjual hasil panen dalam bentuk mentah, melainkan mengolahnya menjadi produk turunan bernilai tambah (added value).
Salah satu terobosan menonjol adalah pemanfaatan kulit kopi yang selama ini dianggap limbah menjadi produk kosmetik berupa sabun. Inovasi ini menjadi bukti nyata bahwa potensi lokal Bondowoso dapat dikembangkan ke sektor industri kreatif dan kecantikan.
Kegiatan ini sangat potensial dengan kehadiran narasumber dari berbagai negara, salah satunya Associate Professor Ferry Jie, Ph.D., akademisi dari Edith Cowan University (ECU) Perth, Australia. Pakar rantai pasok dunia ini memberikan workshop mendalam mengenai supply chain dan keberlanjutan bagi para petani kopi, kubis, dan tomat di Desa Kalianyar - Ijen.
Penguatan pengetahuan tentang rantai pasok sangat krusial untuk meningkatkan kualitas produk sekaligus mendorong produktivitas. Saya sangat senang dapat berkontribusi langsung dan melihat keterlibatan aktif sekitar 30 perempuan dalam proyek ini. Dengan pemahaman yang baik, masyarakat akan mampu menghasilkan produk berkualitas tinggi yang kompetitif di pasar internasional. pihaknya mengaku terkesan dengan pesona Ijen Geopark dan berharap kolaborasi lintas negara ini dapat berlanjut di masa depan.
Kepala Badan Perencanaan Pembangunan, Riset, dan Inovasi Daerah (Bapperida) Bondowoso, Anisatul Hamidah, M.Si., menegaskan bahwa output dari kegiatan ini harus berupa aksi nyata. Ia menargetkan munculnya pelaku usaha mandiri dari para peserta pelatihan.
Pihaknya berharap pelatihan ini tidak berhenti pada tahap teori. Dari sekitar 30 peserta, jika 10 orang saja serius menekuni produksi secara konsisten, mereka berpotensi menjadi embrio UMKM baru yang mandiri. Namun, ini membutuhkan kekompakan lintas OPD.
Sebagai bentuk dukungan konkret, Pemkab Bondowoso telah menyiapkan skema pendampingan lintas sektoral dari Diskoperindag yang memfasilitasi aspek pengemasan, perizinan, hingga percepatan Nomor Induk Berusaha (NIB), dari Dinas Kominfo yang mendukung publikasi dan strategi pemasaran digital. Dinas Sosial P3AKB yang berfokus pada penguatan kapasitas dan pemberdayaan perempuan. Dan, Dinas Pariwisata dan PHIG yang bertugas mencatat dan mempromosikan produk lokal sebagai bagian dari daya tarik wisata Geopark.
Kegiatan yang merupakan bagian dari program International Collaborative Development (ICD) ini berjalan lancar di bawah koordinasi Dinas Kominfo. Kepala Dinas Kominfo Bondowoso, Dwi Wahyudi, S.Sos., M.M., menjelaskan bahwa pihaknya telah bergerak sejak awal sesuai arahan Bupati Bondowoso, Abdul Hamid Wahid, dan Sekretaris Daerah, Fathur Rozi.
Pihaknya memastikan kegiatan di Desa Kalianyar ini dipublikasikan secara luas. Diskominfo tidak hanya mendukung saat pembukaan, tetapi berkomitmen mengawal keberlangsungan program hingga hasil yang dicapai peserta benar-benar tersampaikan kepada masyarakat luas.
Melalui kolaborasi antara akademisi nasional (UNESA), pakar internasional (ECU Australia), dan Pemerintah Kabupaten Bondowoso, kawasan Ijen kini tengah menapaki jalan menuju pusat pertumbuhan ekonomi baru berbasis pengetahuan dan keberlanjutan.
Tulis Komentar