bondowosokab.go.id, BONDOWOSO - Pengajian Mahabudiman ke-9 di Kabupaten Bondowoso menjadi momentum memperkuat keimanan sekaligus mendorong peran perempuan dalam membangun keluarga dan masyarakat. Kegiatan yang berlangsung di Pendopo Raden Bagus Assra, Selasa (13/10/2026), tersebut diisi tausiah oleh pendakwah Ning Umi Laila dari Surabaya.
Ketua Tim Penggerak (TP) PKK Kabupaten Bondowoso, Dr. Hj. Khodijatul Qodriyah, A.P., S.Ag., M.M.Pub., M.Si., menyampaikan apresiasi kepada seluruh jamaah yang terus berpartisipasi dalam kegiatan pengajian rutin tersebut. Menurutnya, pengajian menjadi salah satu sarana memperkuat keimanan, memperluas wawasan keagamaan, serta membangun kebersamaan di tengah masyarakat.
Ia menjelaskan, kegiatan keagamaan bagi perempuan memiliki peran penting dalam membentuk pribadi yang berakhlak, memperkuat ketahanan keluarga, dan menumbuhkan kepedulian sosial. Karena itu, kegiatan semacam ini diharapkan terus berkembang dan menjangkau masyarakat di berbagai wilayah kecamatan.
Khodijatul juga mengajak seluruh jamaah untuk berpartisipasi aktif mendukung pembangunan daerah. Menurutnya, pembangunan tidak hanya berorientasi pada aspek fisik, tetapi juga harus diimbangi dengan penguatan kehidupan beragama, peningkatan kesehatan, serta kesejahteraan masyarakat.
Dalam kesempatan tersebut, ia turut menyoroti pentingnya kecakapan masyarakat dalam menyikapi perkembangan informasi dan teknologi digital. Masyarakat diharapkan mampu memilah informasi secara bijak, memeriksa kebenarannya, serta tidak mudah terpengaruh kabar yang belum terverifikasi.
Selain itu, Khodijatul menyampaikan perkembangan transformasi Posyandu yang kini diarahkan menjadi pusat pelayanan masyarakat yang lebih luas dan terintegrasi. Posyandu tidak lagi terbatas pada pelayanan kesehatan ibu dan anak, tetapi juga menjadi bagian dari upaya pemenuhan kebutuhan dasar masyarakat melalui enam bidang Standar Pelayanan Minimal (SPM).
Enam bidang tersebut meliputi kesehatan, pendidikan, pekerjaan umum, perumahan rakyat, ketenteraman dan ketertiban umum serta perlindungan masyarakat, dan sosial.
Transformasi tersebut membutuhkan dukungan lintas sektor serta partisipasi masyarakat agar pelayanan semakin mudah dijangkau dan mampu menjawab kebutuhan warga secara menyeluruh.
Sementara itu, dalam tausiahnya, Ning Umi Laila mengangkat peran dan kemuliaan perempuan, baik dalam keluarga maupun kehidupan sosial. Ia menegaskan bahwa perempuan memiliki kedudukan penting sebagai anak, istri, ibu, sekaligus anggota masyarakat yang turut berkontribusi dalam kehidupan bersama.
Menurutnya, perempuan yang bekerja maupun yang memilih berfokus mengurus rumah tangga sama-sama memiliki nilai dan kemuliaan. Karena itu, perempuan tidak seharusnya diukur hanya berdasarkan pekerjaan atau penghasilan yang dimiliki, melainkan juga dari ketulusan, tanggung jawab, dan kontribusinya dalam menjalankan peran kehidupan.
Ning Umi Laila juga mengajak jamaah untuk menghargai perjuangan perempuan yang menjalankan berbagai tanggung jawab, termasuk mereka yang bekerja jauh dari keluarga demi memenuhi kebutuhan hidup. Dibalik peran tersebut, terdapat pengorbanan dan perjuangan yang patut dipahami serta dihargai.
Melalui tausiah tersebut, jamaah diajak membangun pemahaman bahwa penghormatan terhadap perempuan perlu diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari, baik melalui sikap saling menghargai, dukungan keluarga, maupun pembagian tanggung jawab yang bijaksana.
Pengajian Mahabudiman ke-9 ini diharapkan tidak hanya menjadi ruang untuk memperdalam pemahaman agama, tetapi juga memperkuat nilai-nilai keluarga, meningkatkan kepedulian sosial, serta mendorong perempuan berperan aktif dalam mewujudkan masyarakat Bondowoso yang religius, harmonis, dan sejahtera.
Tulis Komentar