bondowosokab.go.id, BONDOWOSO - Pemerintah Kabupaten Bondowoso melalui Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) mengambil langkah proaktif dalam menghadapi ancaman cuaca ekstrem dengan menyelenggarakan Rapat Koordinasi (Rakor) Kesiapsiagaan Bencana Hidrometeorologi. Bertempat di Ruang Sabha Bina Praja, Jumat (20/2/2026).
Forum strategis ini menjadi ajang konsolidasi besar-besaran untuk memperkuat ketangguhan daerah menghadapi potensi bencana, yang dihadiri oleh jajaran Asisten Sekda, Kepala Organisasi Perangkat Daerah (OPD), Camat, Lurah, serta unsur TNI-Polri. Tak hanya birokrasi, keterlibatan instansi vertikal, BUMN, hingga para relawan kebencanaan menunjukkan komitmen kolektif dalam melindungi warga di 23 kecamatan hingga ke tingkat desa.
Sekretaris Daerah Bondowoso, Dr. H. Fathur Rozi, M. Fil. I., dalam arahannya menekankan bahwa kesiapsiagaan harus berlandaskan pada data yang akurat. Ia menjelaskan bahwa pemetaan potensi bencana telah dilakukan secara komprehensif dari level kabupaten hingga desa sebagai dasar penentuan langkah antisipasi.
Namun, Sekda menegaskan bahwa infrastruktur dan data saja tidak cukup. Kunci utama keberhasilan penanggulangan bencana terletak pada kesadaran kolektif masyarakat. Tanpa partisipasi aktif dari warga, masyarakat akan cenderung pasif dan hanya menjadi objek saat bencana terjadi. Kita ingin masyarakat menjadi subjek yang tangguh dan tanggap.
Beliau juga menambahkan bahwa kekuatan sumber daya tidak hanya bertumpu pada BPBD kabupaten semata. Sinergi anggaran dan personel terus dikomunikasikan dengan Pemerintah Provinsi Jawa Timur hingga Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) untuk memastikan penanganan yang optimal.
Dalam aspek mitigasi konkret, Sekda menyoroti pentingnya pemeliharaan lingkungan dasar, seperti pembersihan drainase. Menurutnya, saluran air yang tertutup rumput atau sedimen menjadi pemicu utama banjir yang merusak infrastruktur jalan. Ia menginstruksikan seluruh elemen, mulai dari Kepala Desa, RT/RW, tenaga kesehatan, pramuka, hingga unsur Forkopimka untuk menggalakkan kembali budaya kerja bakti.
Terkait infrastruktur vital seperti tanggul dan jembatan, Sekda memberikan apresiasi tinggi terhadap inisiatif swadaya masyarakat yang membangun infrastruktur darurat secara mandiri. Pemerintah daerah berkomitmen tetap memberikan dukungan teknis dan bantuan meski di tengah tantangan keterbatasan fiskal akibat penyesuaian dana transfer pusat dan dana desa.
Senada dengan Sekda, Kepala Pelaksana BPBD Bondowoso, Kristianto Putro Prasojo, S.T., M.M., mengungkapkan bahwa penguatan mitigasi menjadi harga mati mengingat tren bencana yang terus meningkat. Berdasarkan data statistik kewilayahan, Bondowoso memiliki karakteristik kerawanan yang spesifik.
Secara umum bencana terbagi menjadi tiga, yakni alam, non-alam, dan sosial. Namun, di Kabupaten Bondowoso, sekitar 90 persen kejadian merupakan bencana hidrometeorologi, seperti banjir, tanah longsor, dan angin kencang.
Melalui rakor ini, BPBD berharap seluruh pemangku kepentingan memiliki frekuensi yang sama dalam merespons peringatan dini dari BMKG. Sinergi yang kuat antar instansi diharapkan mampu meminimalkan risiko korban jiwa maupun kerugian materiil, sehingga Bondowoso tetap kondusif di tengah musim penghujan yang ekstrem.
Perlunya edukasi dan ajakan langsung ditingkat kades, RW, RT pada masyarakat untuk kerja bhakti rutin di lingkungan.
Tulis Komentar