bondowosokab.go.id, BONDOWOSO - Festival Kopi Nusantara IX dan Tembakau 2026 yang merupakan panggung strategis untuk promosi, kompetisi, dan penguatan jaringan bisnis komoditas unggulan daerah, secar resmi dibuka oleh Bupati Bondowoso, Dr. H. Abdul Hamid Wahid, M.Ag., pada Jumat (28/08/2026).
Acara pembukaan berlangsung meriah dan dihadiri oleh jajaran Forkopimda, para kepala daerah tetangga, kepala bagian Setda, pimpinan instansi vertikal, pelaku usaha, komunitas kreatif, peserta lomba dari berbagai wilayah, hingga ribuan masyarakat Bondowoso.
Dalam pidato pembukaannya, Bupati Abdul Hamid Wahid menegaskan bahwa perhelatan ini memegang peranan vital sebagai penggerak roda ekonomi lokal. Kopi dan tembakau, menurutnya, adalah dua komoditas dengan karakter unik yang telah berakar kuat dalam tradisi, sejarah, serta sejarah peradaban masyarakat tanah Bondowoso.
Kopi dan tembakau lahir dari rahim tanah yang sama dan telah lama menjadi tumpuan hidup masyarakat kita. Pengembangan kedua komoditas ini tidak boleh lagi berhenti pada kuantitas panen semata, tetapi harus bergerak maju menuju peningkatan nilai tambah (value-added) dan peningkatan kesejahteraan para petani.
Langkah ini sejalan dengan arah kebijakan strategis dalam Visi RPJMD Kabupaten Bondowoso 2026–2029 untuk mewujudkan daerah yang tangguh, unggul, berdaya saing global, dan berbudaya dalam bingkai keimanan dan ketakwaan. Visi tersebut diturunkan melalui misi pembangunan ekonomi inklusif dengan mengoptimalkan potensi lokal secara berkelanjutan. Bupati secara khusus menggarisbawahi pentingnya inovasi pengolahan pascapanen, pengemasan modern, promosi kreatif, hingga penguatan posisi bargaining petani dalam mata rantai pasok komoditas global.
Festival tahun ini memamerkan keanekaragaman dan keunggulan komoditas lokal. Sektor kopi diwakili oleh varietas ternama seperti Kopi Hyang Argopuro dan Kopi Ijen Raung yang telah tersohor dengan cita rasa khasnya. Sementara di sektor tembakau, keanekaragaman dibuktikan melalui kehadiran produk unggulan seperti Tembakau Maesan dan Tembakau Wringin.
Lebih dari sekadar pameran visual dan kuliner, perhelatan edisi kesembilan ini dirancang sebagai pasar komersial terintegrasi. Rangkaian acara diisi dengan pameran produk, kompetisi keahlian, ajang temu bisnis (business matching), hingga lelang kopi dan tembakau skala besar yang mempertemukan secara langsung para petani lokal dengan calon buyer nasional maupun internasional. Antusiasme terlihat dari hadirnya jejaring kopi Nusantara dari luar daerah, termasuk kontingen dari Nusa Tenggara Timur (NTT) dan Bandung, yang membuka ruang transfer pengetahuan dan kolaborasi bisnis lintas wilayah.
Guna mempercepat penetrasi pasar, Pemerintah Kabupaten Bondowoso secara masif melakukan revitalisasi citra daerah melalui program Bondowoso Republic Coffee Reborn. Inisiatif ini menjadi payung strategi dalam membawa komoditas kopi lokal naik kelas.
Langkah akselerasi ini kian mantap dengan masuknya Bondowoso sebagai salah satu kandidat kuat dalam proyek pembinaan International Labour Organization (ILO) untuk pengembangan sektor kopi di Indonesia. Setelah melalui proses penilaian ketat, pemerintah daerah optimistis keterlibatan lembaga internasional ini akan memperkuat standar ketenagakerjaan dan kualitas produksi kopi lokal.
Selain jaringan internasional, dukungan finansial dan pendampingan UMKM terus digalang melalui sinergi intensif dengan Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Kolaborasi ini berfokus pada kemudahan akses permodalan, literasi keuangan bagi kelompok tani, serta akselerasi ekonomi daerah berbasis komunitas.
Di tingkat nasional, promosi Kopi Bondowoso telah menembus ibu kota melalui kerja sama dengan The Planner, sebuah kafe strategis yang berlokasi di lingkungan Kementerian PPN/Bappenas, Jakarta. Saat ini, varietas Kopi Bondowoso telah menjadi salah satu menu favorit para pembuat kebijakan dan tamu negara di kafe tersebut. Pemkab Bondowoso bahkan tengah mengkaji potensi pengembangan konsep outlet serupa di wilayah Bondowoso.
Transformasi Festival Kopi Nusantara IX dan Tembakau 2026 terbukti berhasil menggeser paradigma acara dari sekadar seremoni menjadi sebuah ekosistem ekonomi yang komprehensif. Melalui integrasi antara petani, produsen, pelaku usaha, buyer, komunitas, dan pemerintah, Bondowoso siap membangun reputasi perdagangan yang solid.
Mengakhiri sambutannya, Bupati mengimbau seluruh elemen masyarakat untuk terus menjaga konsistensi mutu produk dan merawat nilai-nilai kearifan lokal.
Bupati juga mengajak semu pihak untuk menjaga bersama kualitas produk, dan memberikan keramahan terbaik sebagai tuan rumah, dan rawat semangat gotong royong. Dengan inovasi dan jejaring yang kuat, kita optimistis kopi dan tembakau.
Tulis Komentar