bondowosokab.go.id, BONDOWOSO - Museum Terbuka Megalitikum Grujugan resmi menjadi ruang perjumpaan sakral antara sejarah dan budaya. Tempat ini dipilih sebagai lokasi pelaksanaan Road to Festival Muharram 2026 yang dikemas apik dalam tajuk “Festival Jejak Purba Bondowoso: Merawat Warisan, Menghidupkan Budaya”. Berlangsung selama dua hari penuh pada 19–20 Juni 2026, festival ini menjadi tonggak awal perayaan budaya yang megah di Kabupaten Bondowoso.
Kegiatan ini dibuka secara resmi oleh Plt Asisten Perekonomian dan Pembangunan Setda Bondowoso, Dra. Nunung Setianingsih, M.M., yang hadir mewakili Bupati Bondowoso, Dr. H. Abdul Hamid Wahid, M.Ag. Pembukaan ini turut dihadiri oleh jajaran petinggi daerah, di antaranya Asisten I Setda Bondowoso, staf ahli bupati, Kepala Dinas Pendidikan, Kepala Dinas Pertanian, serta Camat Grujugan, yang mempertegas komitmen lintas sektor dalam menjaga marwah budaya daerah.
Dalam sambutan tertulis Bupati Bondowoso yang dibacakan oleh Nunung Setianingsih, ditegaskan bahwa Bondowoso memiliki posisi yang sangat istimewa di peta peradaban nusantara. Daerah ini tidak hanya dianugerahi kekayaan alam yang memukau, tetapi juga menyimpan warisan budaya serta jejak peradaban purba yang menjadi fondasi identitas masyarakatnya.
Warisan budaya bukan sekadar peninggalan masa lalu yang disimpan untuk dikenang, melainkan sumber inspirasi, pembelajaran, dan kekuatan kolektif kita untuk membangun masa depan.
Lebih lanjut, pihaknya menyampaikan bahwa situs megalitik, tradisi leluhur, kesenian rakyat, hingga nilai-nilai kearifan lokal merupakan kekayaan tak ternilai yang harus dijaga bersama. Proses pelestarian ini tidak bisa berjalan sendiri, melainkan membutuhkan kolaborasi aktif dari berbagai pihak mulai dari pemerintah, komunitas, dunia pendidikan, pelaku usaha, media, hingga masyarakat luas. Pemerintah Kabupaten Bondowoso secara khusus menaruh harapan besar pada generasi penerus.
Kami berharap semakin banyak generasi muda yang mencintai dan terlibat aktif dalam pelestarian seni dan budaya. Dengan begitu, Bondowoso mampu menjaga keseimbangan yang harmonis antara akselerasi pembangunan modern dan kelestarian warisan leluhur.
Sementara itu, Kepala Dinas Pariwisata, Kebudayaan, Pemuda dan Olahraga (Disparbudpora) Bondowoso, Gede Budiawan, S.Sos., M.Si., menjelaskan bahwa Festival Jejak Purba ini merupakan rangkaian pembuka (kick-off) menuju puncak perayaan Festival Muharram 2026 yang pembukaannya dijadwalkan digelar pada malam harinya.
Gede memaparkan bahwa festival dua hari ini sengaja dirancang sebagai ruang kolaborasi inklusif yang mempertemukan pemerintah, komunitas budaya, akademisi, dan generasi muda untuk bersama-sama merawat warisan sejarah Bondowoso. Atmosfer pelestarian terasa sangat kental melalui keterlibatan aktif berbagai elemen masyarakat.
Selama festival berlangsung eksotis, Museum Terbuka Megalitikum Grujugan dihidupkan oleh penampilan dari sedikitnya tujuh sanggar dan komunitas seni yang membawakan 11 kesenian tradisional lokal. Ragam gerak tari dan musik tradisional tersebut berhasil memukau para pengunjung yang hadir.
Tidak hanya mengandalkan aspek pertunjukan, festival ini juga diperkuat dengan bobot edukasi yang tinggi. Panitia menyelenggarakan rangkaian kegiatan berbasis pengetahuan, antara lain Tur Situs Megalitikum yang mengajak peserta melihat langsung bukti otentik peradaban purba di Bondowoso. Seminar Sejarah yang menjadi Ruang diskusi ilmiah dan kultural yang melibatkan Komunitas Jaga Budaya, juru pelihara situs, Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) Guru Sejarah SMA/SMK, serta para pelajar.
Keberhasilan penyelenggaraan Festival Jejak Purba Bondowoso ini tidak lepas dari sinergi tingkat nasional. Gede Budiawan menambahkan, kegiatan ini mendapat dukungan penuh dari Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah XI Jawa Timur dan menjadi bagian dari program fasilitasi resmi Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia.
Kadisparbudpora menegaskan komitmennya agar Festival Jejak Purba tidak berhenti sebagai kegiatan seremonial tahunan semata. Target jangka panjangnya adalah menjadikan festival ini sebagai instrumen edukasi sejarah yang masif serta motor penggerak untuk memperkuat ekosistem pelestarian budaya di Bondowoso.
Melalui kolaborasi yang kuat dan berkelanjutan, kami optimistis warisan budaya Bondowoso dapat terus lestari, dikenal lebih luas di kancah nasional maupun internasional, serta senantiasa menjadi sumber pembelajaran dan kebanggaan yang hidup di hati masyarakat," pungkas Gede.
Tulis Komentar