bondowosokab.go.id, BONDOWOSO - Pemerintah Kabupaten Bondowoso memperkuat Konektivitas Tapal Kuda Bersama dengan melakukan pembahasan rencana survei Reaktivasi Jalur Kereta Api Kalisat–Bondowoso–Panarukan.
Langkah ini guna memperkuat integrasi wilayah dan memacu pertumbuhan ekonomi di kawasan Tapal Kuda resmi dimulai. Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bondowoso bersama Balai Teknik Perkeretaapian (BTP) Kelas I Surabaya Direktorat Jenderal Perkeretaapian Kementerian Perhubungan menggelar Rapat Koordinasi (Rakor) Rencana Survei Reaktivasi Jalur Kereta Api (KA) Kawasan Aglomerasi Bondowoso–Situbondo–Jember. Pertemuan tersebut berlangsung di Peringgitan Pendopo Raden Bagus Assra pada Senin (21/09/2026).
Rakor ini digelar sebagai sarana kolaborasi untuk memetakan kesiapan teknis, kebutuhan infrastruktur, aspek keselamatan, hingga bentuk dukungan pemerintah daerah dalam proses reaktivasi jalur kereta api historis tersebut.
Pertemuan dihadiri langsung oleh Bupati Bondowoso Dr. H. Abdul Hamid Wahid, M.Ag., Wakil Bupati As'ad Yahya Safi'i, S.E., Sekretaris Daerah Dr. H. Fathur Rozi, M.Fil.I., Kepala BTP Kelas I Surabaya Denny Michels Adlan, Asisten 2, Asisten 3, para Kepala Perangkat Daerah, serta beberapa Camat. Guna menguatkan sinergi antarwilayah aglomerasi, hadir pula Kepala Dinas Perhubungan (Dishub) Kabupaten Jember dan Kepala Dishub Kabupaten Situbondo.
Dalam sambutannya, Bupati Bondowoso Dr. H. Abdul Hamid Wahid, M.Ag., menyampaikan apresiasi yang tinggi atas perhatian Kementerian Perhubungan terhadap rencana reaktivasi jalur kereta api Kalisat–Bondowoso–Panarukan. Menurutnya, jalur ini memiliki arti sangat strategis bagi perkembangan seluruh kawasan Tapal Kuda.
Bupati menegaskan bahwa pembahasan reaktivasi ini merupakan kelanjutan dari komunikasi dan koordinasi yang telah terjalin sebelumnya, sekaligus sejalan dengan komitmen membangun kerja sama strategis antara Kabupaten Bondowoso, Jember, dan Situbondo.
Kerja sama tiga daerah ini tidak hanya ditujukan untuk sektor pariwisata, tetapi dikembangkan secara lebih luas melalui tiga sektor prioritas, yaitu di sektor Pariwisata yakni Mempermudah akses wisatawan menuju destinasi unggulan Kawasan, di sektor Pangan (Pertanian & Perkebunan) untuk Memperkuat jalur distribusi komoditas utama masyarakat, dan dari sektor Konektivitas dengan Mendorong mobilitas penduduk serta mengintegrasikan simpul transportasi antardaerah.
Pemkab Bondowoso, Jember, dan Situbondo harus saling memperkuat. Konektivitas ini kita dorong bersama untuk mendukung berbagai kepentingan, khususnya pariwisata, ketahanan pangan, perkebunan, dan pertanian yang menjadi ciri khas dari tiga kabupaten.
Lebih lanjut, Bupati menekankan pentingnya mengintegrasikan konektivitas antarmoda. Selain jalur kereta api, rencana pemantapan konektivitas ini diarahkan agar dapat terhubung dengan jaringan transportasi udara serta laut di Situbondo untuk menciptakan sistem transportasi kawasan yang solid dan terpadu.
Sementara itu, Kepala BTP Kelas I Surabaya DJKA Kementerian Perhubungan, Denny Michels Adlan, menjelaskan bahwa kehadiran timnya bertujuan untuk membahas detail teknis serta tindak lanjut rencana reaktivasi jalur KA dari Jember menuju Bondowoso hingga ke Panarukan.
Denny menekankan bahwa proses reaktivasi tidak sekadar melihat fisik jalur lama, melainkan memerlukan kajian menyeluruh yang mencakup kebutuhan masyarakat, keselamatan, kondisi trase, status kepemilikan lahan, dampak sosial, hingga kelayakan ekonomi.
Beberapa hal krusial yang menjadi perhatian utama BTP Kelas I Surabaya meliputi Aspek Keselamatan dengan Meninjau ruang manfaat dan ruang milik jalan kereta api (Rumaja & Rumija), sterilisasi jalur, serta penanganan perlintasan sebidang yang rawan risiko.
Selain itu Kajian Ekonomi & Proyeksi Demand juga dilakukan, Mengingat investasi yang dibutuhkan cukup besar, proyeksi lalu lintas penumpang dan barang harus disusun secara cermat, termasuk Dokumen Perencanaan & Pembiayaan untuk Menyelesaikan seluruh dokumen studi sebelum melangkah ke tahap konstruksi.
Jalur Kalisat–Bondowoso–Panarukan sendiri memiliki panjang lintas mendekati 70 km. Berdasarkan progres lapangan, sekitar 70 persen jalur telah rampung disurvei dan keseluruhan proses survei lapangan ditargetkan selesai pada awal Oktober 2026.
Hasil survei ini nantinya menjadi salah satu dasar untuk penyusunan dan pemutakhiran dokumen perencanaan. Tidak bisa langsung menetapkan tahun depan akan membangun, kita harus menetapkan terlebih dahulu dokumen perencanaannya. Setelah lengkap, baru kita berbicara mengenai skema pembiayaan.
Kepala BTP Kelas I Surabaya DJKA Kementerian Perhubungan menambahkan, jika dokumen perencanaan dan nilai investasi sudah pasti, pemerintah dapat mempertimbangkan berbagai alternatif pembiayaan, seperti Surat Berharga Syariah Negara (SBSN) maupun skema Kerja Sama Pemerintah dengan Badan Usaha (KPBU).
Dari perspektif daerah, Kepala Dinas Perhubungan Kabupaten Bondowoso, Drs. Sigit Purnomo, M.M., memaparkan data historis dan teknis mengenai kondisi jaringan transportasi di Bondowoso.
Jalur KA Kalisat–Bondowoso–Panarukan memiliki nilai sejarah panjang dalam perkembangan ekonomi regional sejak Stasiun Bondowoso didirikan pada 1893. Setelah melayani angkutan penumpang dan barang selama lebih dari satu abad, operasional jalur ini dihentikan pada 2004.
Untuk Rincian Segmen Lintas Nonaktif yakni mencapai Total ±67,52 km, yang terdiri dari Segmen Kalisat–Bondowoso 25,462 km, Segmen Bondowoso–Situbondo 27,829 km, Segmen Situbondo–Panarukan 14,229 km, dengan Infrastruktur pendukung 13 stasiun/halte dan 40 jembatan (memerlukan pengujian kelaikan teknis ulang).
Dalam pemaparannya, Kadishub juga menyoroti kondisi mobilitas masyarakat Bondowoso yang saat ini masih sangat bergantung pada kendaraan pribadi, di mana 87 persen perjalanan menggunakan sepeda motor, 12 persen mobil pribadi, dan hanya 1 persen yang memanfaatkan angkutan umum.
Padahal, secara kebekerjaan (data BPS 2025), struktur tenaga kerja Bondowoso didominasi sektor pertanian (42,48 persen), jasa (37,48 persen), dan industri (20,05 persen). Kehadiran moda kereta api dinilai sangat krusial untuk memfasilitasi efisiensi logistik komoditas unggulan seperti kopi, tebu, dan tembakau.
Di sektor pariwisata, tren kunjungan ke Bondowoso menunjukkan tren positif yang signifikan, pada Tahun 2023 tercatat 366.522 kunjungan, pada Tahun 2024 tercatat 555.171 kunjungan, dan pada Tahun 2025 tercatat 611.361 kunjungan.
Keberadaan destinasi berkelas dunia seperti Ijen Geopark menjadikan reaktivasi jalur kereta api ini semakin strategis dalam memperluas aksesibilitas wisatawan.
Melalui pelaksanaan rakor dan rencana survei ini, Pemkab Bondowoso menegaskan komitmen penuh untuk mendukung setiap tahapan reaktivasi jalur KA Kalisat–Bondowoso–Panarukan secara terukur, sistematis, dan taat regulasi.
Reaktivasi kereta api ini diharapkan tidak sekadar menjadi penyedia moda transportasi alternatif, tetapi juga menjadi penggerak utama (engine of growth) bagi sektor pariwisata, pertanian, perdagangan, industri pengolahan, serta sistem logistik terpadu di kawasan aglomerasi Tapal Kuda.
Tulis Komentar