bondowosokab.go.id, BONDOWOSO - Pemerintah Kabupaten Bondowoso secara resmi menerima kunjungan kehormatan (courtesy visit) dari Delegasi Pemerintah Republik Kamerun beserta perwakilan Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) Yaounde pada Senin, (19/10/2026).
Pertemuan bertajuk "Meeting on The Exploration of Potential Cooperation Between The Regent of Bondowoso, Indonesia and The Mayors of Participating Local Governments in The Cameroon" tersebut digelar secara khidmat di Pringgitan Pendopo Raden Bagus Assra Bondowoso.
Bupati Bondowoso, Dr. H. Abdul Hamid Wahid, M.Ag., bertindak sebagai penceramah utama (Keynote Speaker) sekaligus memimpin langsung penerimaan rombongan delegasi dengan didampingi oleh para Kepala Organisasi Perangkat Daerah (OPD) terkait di lingkungan Pemerintah Kabupaten Bondowoso.
Delegasi Republik Kamerun yang hadir dalam pertemuan eksplorasi kerja sama ini diantaranya Armand YEDI (Wali Kota Bibemi), Germain Médard BELINGA EVOUNE (Wali Kota Diang), Patience Julie NGO MBIHNUM née (Sekretaris Jenderal Pouma). Turut mendampingi dari pihak Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) Yaounde, Tomy Lutvan Abqory (Sekretaris Tiga Fungsi Penerangan, Sosial, dan Budaya), Muhammad Fauzan (Staf/Penerjemah).
Perwakilan KBRI Yaounde, Tomy Lutvan Abqory, menegaskan bahwa KBRI Yaounde berupaya menjadi penghubung (bridge) antara pemerintah daerah di Indonesia dan mitra potensial di kawasan Afrika Tengah. Langkah tersebut dilakukan dengan membuka ruang dialog agar masing-masing pihak dapat mengenali potensi serta kebutuhan yang saling mengisi dan disinergikan.
KBRI membuka platform untuk berdiskusi, terutama dengan Bupati Bondowoso beserta jajarannya, untuk bersama-sama mencari titik temu (common ground) mengenai sektor apa saja yang dapat dikerjasamakan.
Tomy juga menyampaikan bahwa KBRI Yaounde tergolong relatif baru beroperasi, yakni sekitar dua setengah tahun. Kondisi ini justru menjadi peluang besar untuk terus memperluas hubungan diplomatik dan menggali potensi kemitraan yang belum dimanfaatkan secara maksimal. Menurutnya, peluang kerja sama ini tidak terbatas pada sektor perdagangan semata, melainkan mencakup berbagai bidang strategis, mulai dari tata kelola pemerintahan, kesehatan, pendidikan, universitas, hubungan antarmasyarakat (people-to-people contact), hingga pengembangan sektor bisnis dan ekonomi kreatif.
KBRI terus menjajaki berbagai sektor, baik bisnis, pemerintahan, kesehatan, hubungan antarmasyarakat, universitas, maupun bidang lainnya, untuk mendorong kerja sama antara Indonesia dan negara-negara di kawasan Afrika Tengah.
Dalam sesi paparan resminya yang bertajuk "Bondowoso: Dari Warisan Alam menuju Pembangunan Berkelanjutan (Regional Potential and Opportunities for Developing Cooperation)", Bupati Dr. H. Abdul Hamid Wahid, M.Ag. memaparkan gambaran umum wilayah serta potensi strategis Kabupaten Bondowoso yang memiliki luas wilayah 1.560,10 km persegi, terdiri dari 23 kecamatan dan 209 desa, di mana 90,57% wilayahnya dimanfaatkan untuk sektor pertanian.
Bupati menegaskan bahwa kondisi perekonomian Kabupaten Bondowoso terus menunjukkan tren positif, ditandai dengan Pertumbuhan Ekonomi mencapai 5,32% pada tahun 2025 dengan Produk Domestik Regional Bruto (PDRB ADHB) sebesar Rp28,56 Triliun. Pertumbuhan ini juga diiringi dengan peningkatan kesejahteraan masyarakat melalui penurunan Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) dari 4,46% (2021) menjadi 2,55% (2025), serta penurunan angka kemiskinan dari 14,73% menjadi 12,20% pada periode yang sama.
Beberapa sektor unggulan daerah yang ditawarkan meliput Komoditas Kopi, pertanian, perikanan, peternakan, dan pariwisata.
Kopi merupakan identitas dan komoditas unggulan utama daerah yang ditopang oleh lebih dari 8.700 petani. Bondowoso mencatatkan luas panen kopi Robusta sebesar 6.556,5 Ha (produksi 3.237,61 ton) dan kopi Arabika sebesar 13.754 Ha (produksi 5.676,23 ton) pada tahun 2025. Bondowoso juga bangga atas kepemilikan Sertifikat Indikasi Geografis (IG), yakni Kopi Arabika Java Ijen-Raung (Sertifikat IG No. IDG000023, mencakup 12.228,62 Ha dengan 73 kelompok tani) dan Kopi Arabika Hyang Argopuro (Sertifikat IG No. IDG000000105, mencakup 1.525,38 Ha dengan 21 kelompok tani). Pemkab Bondowoso terus memperkuat ekosistem hulu-ke-hilir melalui pemrosesan modern, peningkatan kapasitas barista, hingga ajang promosi tahunan seperti Festival Kopi Nusantara & Tembakau.
Kabupaten Bondowoso memiliki rekam jejak panjang dan pengalaman matang dalam pengolahan pertanian organik, dengan total kawasan padi organik mencapai 225 hektare yang tersebar di Lombok Kulon (105 Ha), Sulek (100 Ha), dan Gadingsari (20 Ha). Perjalanan pertanian organik di Lombok Kulon yang dimulai dari 0,4 Ha pada tahun 2008 hingga berkembang pesat saat ini menjadi bukti konsistensi, penguatan kelembagaan, dan regulasi pemerintah (Perbup No. 14 Tahun 2017 & Perbup No. 14 Tahun 2019). Didukung fasilitas modern seperti Rice Milling Unit (RMU), Colour Sorter, dan unit pupuk organik, produk beras organik Bondowoso kini telah menjangkau pasar nasional mulai dari Jawa, Sulawesi, Papua, hingga Ambon.
Sejak ditetapkan secara resmi sebagai UNESCO Global Geopark pada 24 Mei 2023 dan menerima sertifikat keanggotaan Global Geoparks Network (GGN) di Maroko, Ijen Geopark mengusung tiga pilar utama: Konservasi, Edukasi, dan Ekonomi Berkelanjutan. Kawasan ini mencakup 21 Geosite, 6 Biosite, dan 10 Culturesite. Keindahan situs geologi seperti Kawah Ijen, Kawah Wurung, hingga warisan budaya Singo Ulung dan Situs Megalitikum turut mendorong lonjakan kunjungan wisatawan yang mencapai 701.002 wisatawan pada tahun 2025. Hal ini membuka peluang investasi dan kemitraan di bidang agrowisata, ekowisata, dan ekonomi kreatif.
Bupati Bondowoso, Dr. H. Abdul Hamid Wahid, M.Ag., mengungkapkan rasa kehormatan atas kehadiran para Wali Kota dan pimpinan daerah dari Kamerun. Beliau berharap pertemuan awal ini dapat ditindaklanjuti secara konkret melalui pertukaran informasi, transfer teknologi pertanian, hingga potensi ekspor-impor komoditas unggulan.
Pertemuan hari ini bukan sekadar silaturahmi diplomasi, melainkan langkah awal yang sangat strategis untuk menjajaki kerja sama konkret antar-pemerintah daerah (Kerja Sama Selatan-Selatan). Bondowoso siap berbagi pengalaman dalam tata kelola pertanian organik hulu-ke-hilir, branding kopi berindikasi geografis, serta pengembangan pariwisata berbasis kawasan geopark UNESCO. Diharapkan kolaborasi ini membawa manfaat nyata bagi pembangunan daerah dan kesejahteraan masyarakat di kedua belah pihak," tegas Bupati Bondowoso.
Rangkaian acara dilanjutkan dengan sesi diskusi teknis antara jajaran Kepala OPD Pemkab Bondowoso, para pimpinan daerah Kamerun, serta perwakilan KBRI untuk merumuskan pilar-pilar nota kesepahaman (MoU) yang akan disepakati di masa mendatang. Acara kemudian diteruskan dengan kegiatan lapangan berupa kunjungan langsung ke beberapa objek potensial di Kabupaten Bondowoso guna melihat secara dekat lapangan pertanian organik, sentra pengolahan kopi, serta potensi destinasi pariwisata daerah.
Tulis Komentar