bondowosokab.go.id, BONDOWOSO - Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bondowoso terus menunjukkan komitmen kuat dalam memperkuat sektor komoditas unggulan daerah melalui strategi hilirisasi yang terintegrasi dan pemberdayaan pelaku usaha mikro. Langkah strategis ini ditegaskan kembali dalam acara Dialog Kopi Hilirisasi bertema “Kopi Bondowoso Menuju Panggung Specialty Dunia” yang diselenggarakan pada Penutupan Pekan PLUT UKMKM di Pusat Layanan Usaha Terpadu (PLUT) Kelurahan Kota Kulon, Kecamatan Bondowoso, Sabtu (23/05/2026).
Kegiatan yang berlangsung interaktif ini dihadiri langsung oleh Wakil Bupati Bondowoso As’ad Yahya Safi’i, S.E., Ketua DPRD Kabupaten Bondowoso H. Achmad Dhafir, S.H., M.H., Kepala Cabang Bank Jatim Bondowoso, serta jajaran Kepala Perangkat Daerah terkait di lingkungan Pemkab Bondowoso.
Dalam sambutannya, Wakil Bupati Bondowoso, As’ad Yahya Safi’i, S.E., menekankan bahwa kunci utama untuk menembus pasar internasional terletak pada konsistensi kualitas dan kesiapan para pelaku usaha di sepanjang rantai pasok. Oleh karena itu, edukasi serta pendampingan yang komprehensif dan menyeluruh bagi para petani serta pelaku usaha kopi menjadi hal yang mutlak dilakukan.
Hilirisasi kopi tidak boleh hanya berhenti pada proses budidaya di hulu. Kita harus bergerak maju dan fokus pada penguatan teknik pengolahan pascaproduksi, strategi pemasaran yang modern, hingga pemanfaatan teknologi digital agar kopi Bondowoso benar-benar mampu tampil dan bersaing di pasar specialty dunia. Perlu edukasi dari awal sampai akhir proses. Dengan begitu, kopi Bondowoso bisa memiliki nilai tambah dan daya saing yang lebih kuat.
Sejalan dengan arahan pimpinan daerah, Kepala Dinas Koperasi, Perindustrian, dan Perdagangan (Diskoperindag) Kabupaten Bondowoso, Ir. Hergiar Yuli Pramanto, S.T., M.T., menjelaskan bahwa PLUT Bondowoso kini telah mulai berfungsi secara optimal sebagai pusat inkubasi dan pendampingan bagi pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) serta usaha ultra mikro.
Saat ini, PLUT Bondowoso telah memetakan dan mengembangkan empat ekosistem utama untuk mengasuh para pelaku usaha lokal, yaitu Ekosistem Kuliner, Ekosistem Kerajinan, Ekosistem Agribisnis, Ekosistem Digital.
Seluruh ekosistem ini diarahkan secara terukur untuk menaikkan kelas pelaku usaha kecil agar lebih mandiri, berdaya, dan memiliki kapasitas yang memadai untuk menembus pasar yang lebih luas, termasuk pasar ekspor.
Diskoperindag menargetkan agar aktivitas ekspor ke depan tidak hanya didominasi oleh pelaku usaha skala besar saja. Kami ingin UMKM dan usaha ultra mikro juga terlibat aktif dalam ekspor, sehingga dampak perputaran ekonominya benar-benar dirasakan langsung secara nyata oleh masyarakat kecil di akar rumput.
Pihaknya juga menambahkan bahwa antusiasme para pelaku usaha dalam mengikuti pelatihan dan dialog kopi ini sangat tinggi. Tema-tema seputar prosedur ekspor dan digital marketing menjadi daya tarik utama. Bahkan, melihat tingginya animo tersebut, banyak peserta yang mengusulkan agar kegiatan serupa terus dilanjutkan secara berkala dengan membedah tema-tema spesifik sesuai dengan kebutuhan riil usaha mereka.
Sebagai bentuk komitmen jangka panjang, Diskoperindag melalui PLUT Bondowoso telah menyiagakan dua orang konsultan pendamping yang siap melayani pelaku usaha setiap hari kerja. Pendampingan intensif ini mencakup aspek legalitas usaha, standarisasi produksi, manajemen pemasaran, perluasan kemitraan, hingga fasilitasi sertifikasi penting seperti sertifikasi Halal dan pengurusan Nomor Induk Berusaha (NIB).
Selain fokus pada penguatan SDM dan kelembagaan UMKM, dialog tersebut juga menyoroti urgensi pembenahan infrastruktur pendukung, salah satunya adalah pemanfaatan kembali Sistem Resi Gudang (SRG) kopi Bondowoso. Menanggapi hal tersebut, Hergiar mengakui adanya beberapa kerusakan fisik pada fasilitas gudang saat ini yang memerlukan perbaikan menyeluruh dengan estimasi kebutuhan anggaran sekitar Rp1 hingga Rp2 miliar.
Pemerintah Kabupaten Bondowoso berkomitmen untuk mengupayakan usulan perbaikan infrastruktur gudang ini agar dapat masuk dalam pos anggaran daerah dan direalisasikan secara bertahap mulai tahun anggaran 2027 mendatang.
Menurut Hergiar, keberadaan resi gudang ini memiliki fungsi vital secara ekonomi bagi para petani kecil. Dengan sistem resi gudang yang berjalan optimal, petani dapat menyimpan hasil panen mereka saat harga pasar sedang turun dan menggunakannya sebagai agunan untuk memperoleh akses pembiayaan formal dari perbankan tanpa terpaksa menjual kopi mereka terlalu dini dengan harga murah.
Di samping rencana revitalisasi resi gudang, Pemkab Bondowoso juga tengah mematangkan rencana besar untuk memperkuat fasilitas pengolahan kopi yang dipusatkan di PLUT. Fasilitasi yang disiapkan akan mencakup standardisasi proses pascapanen, penyediaan alat penyangraian (roasting) yang modern, hingga edukasi teknik penyajian kopi (brewing).
Melalui integrasi hilirisasi, penguatan ekosistem usaha dari hulu ke hilir, serta dukungan pembiayaan yang kuat, Pemerintah Kabupaten Bondowoso optimis bahwa kopi lokal Bondowoso tidak hanya akan bertahan sebagai komoditas unggulan daerah semata, melainkan menjelma menjadi produk bernilai tambah tinggi—mulai dari bentuk green bean hingga kopi bubuk siap saji—yang siap merajai pasar specialty internasional.
Tulis Komentar