bondowosokab.go.id, BONDOWOSO - Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bondowoso mempertegas komitmennya dalam mempercepat pembangunan daerah berbasis penelitian dan inovasi. Langkah strategis ini diwujudkan melalui perhelatan Sharing Session Kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Indonesia (UI) Tahun 2026 yang digelar di Pendopo Raden Bagus Assra, Minggu (04/10/2026).
Kegiatan ini menjadi momentum krusial yang mempertemukan hasil kajian dan pengamatan lapangan Tim Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Sekolah Pascasarjana Pembangunan Berkelanjutan (SPPB) UI dengan arah kebijakan prioritas Pemerintah Kabupaten Bondowoso.
Acara tersebut dihadiri langsung oleh Bupati Bondowoso, Dr. H. Abdul Hamid Wahid, M.Ag., jajaran Staf Ahli Bupati, Kepala Bapperida Dr. Anisatul Hamidah, M.Si., Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan, Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika, Kepala Diskoperindag, Kepala Disparbudpora, Kepala DPMPTSP dan Tenaga Kerja, Kabag Pemerintahan, Kabag Umum, Kabag Prokopim Setda, serta Tim Penelitian dan Pengabdian Masyarakat SPPB UI.
Bupati Bondowoso, Dr. H. Abdul Hamid Wahid, M.Ag., menyampaikan apresiasi yang tinggi atas kehadiran serta kontribusi aktif akademisi SPPB UI yang selama beberapa hari turun langsung berinteraksi dengan perangkat daerah dan masyarakat untuk menggali berbagai potensi lokal Bondowoso.
Masukan dan pandangan dari kalangan akademisi merupakan elemen vital untuk memperkaya perspektif pemerintah daerah dalam merumuskan arah pembangunan yang presisi dan berkelanjuta.
Bupati menilai bahwa rekomendasi dan fokus pengabdian masyarakat yang diusung UI sangat selaras dengan program prioritas Pemkab Bondowoso. Berbagai fokus tersebut meliputi pemberdayaan perempuan, penguatan kapasitas pelaku UMKM, peningkatan ketahanan pangan melalui diversifikasi produk olahan, penguatan ekonomi lokal dan rantai pasok, transformasi digital, pelestarian warisan budaya dan situs megalitikum, hingga pengembangan pariwisata berkelanjutan.
Secara khusus, Bupati menekankan krusialnya optimalisasi produk unggulan daerah, seperti komoditas kopi, hasil olahan pertanian, serta daya tarik wisata sejarah dan alam. Menurutnya, kekayaan alam Bondowoso merupakan modal fundamental yang harus digarap secara terukur agar mampu memberikan dampak kesejahteraan yang nyata bagi masyarakat.
Dalam paparan risetnya, perwakilan Tim Penelitian dan Pengabdian Masyarakat SPPB UI, Heny Saptatia Drajati Nugrahani, Ph.D., mempresentasikan gagasan strategis yang berfokus pada pelibatan generasi muda dalam penguatan transformasi digital dan storytelling daerah (regency branding).
UI menginisiasi program pendampingan bagi pelajar jenjang SMP di Bondowoso sebagai agen perubahan untuk membangun narasi positif mengenai potensi daerah di platform digital. Dalam skema awal, para siswa akan dibentuk dalam kelompok kerja untuk mengelola akun media sosial bertemakan identitas keunggulan Bondowoso.
Melalui skema ini, diproyeksikan dalam satu bulan lahir 10 akun baru yang mengusung kata kunci Bondowoso, dan dalam setahun dapat berkembang hingga 120 akun baru. Ini adalah strategi masif untuk memperkuat digital presence Bondowoso di ruang publik nasional maupun global.
Pihaknya menambahkan bahwa pola pendampingan ini dirancang secara modular sehingga dapat direplikasi ke sekolah-sekolah lain di seluruh wilayah Kabupaten Bondowoso. Selain aspek digitalisasi, SPPB UI juga menyoroti pentingnya penguatan narasi pada situs-situs megalitikum dan kekayaan sejarah Bondowoso agar memiliki daya tarik literasi dan wisata yang lebih kuat.
Menanggapi hasil pemaparan tersebut, Kepala Bapperida Kabupaten Bondowoso, Dr. Anisatul Hamidah, M.Si., menyatakan bahwa Pemkab Bondowoso siap menindaklanjuti seluruh rekomendasi yang disampaikan oleh akademisi UI. Langkah konkret yang tengah disiapkan meliputi penyusunan Memorandum of Understanding (MoU) serta Perjanjian Kerja Sama (PKS) lintas sektor.
Pemkab Bondowoso juga menantikan policy brief resmi dari SPPB UI sebagai acuan akademis dalam merumuskan regulasi dan arah kebijakan pembangunan daerah ke depan.
Bondowoso memiliki potensi luar biasa di sektor pertanian, perkebunan, budaya, dan pariwisata. Namun, potensi besar ini memerlukan sentuhan inovasi dan teknologi terapan agar dapat memberikan nilai tambah (added value) yang optimal bagi perekonomian warga.
Sebagai contoh, pihaknya menyoroti komoditas ketela yang menjadi bahan baku utama kuliner khas Bondowoso. Menurutnya, intervensi teknologi terapan sangat dibutuhkan untuk meningkatkan efisiensi rantai produksi sekaligus mengangkat derajat ekonomi para petani lokal. Begitu pula pada sektor pariwisata, di mana narasi sejarah dan keunikan bentang alam perlu dikemas secara komunikatif untuk menarik wisatawan.
Kolaborasi antara Pemkab Bondowoso dan Universitas Indonesia ini diharapkan tidak berhenti sebagai forum diskusi semata, melainkan berkembang menjadi kemitraan jangka panjang yang mencakup riset terapan, penyusunan kebijakan publik, penguatan kapasitas SDM, hingga penetapan strategi komunikasi daerah yang efektif. Sinergi ini sekaligus menjadi pijakan kokoh dalam mewujudkan pembangunan Kabupaten Bondowoso yang inklusif, inovatif, dan berbasis pengetahuan.
Tulis Komentar